Blog
January 24th, 2007 by marbwirehehehe… nyobain nulis2 di tempat laen juga ah skarang.
pada nyimpang atuh di marbwire.blogspot.com
hehehe… nyobain nulis2 di tempat laen juga ah skarang.
pada nyimpang atuh di marbwire.blogspot.com
Pada suatu malam yang sangat membekukan di tengah musim dingin yang panjang Tuan Bebeng mengunjungi sebuah kota untuk sebuah urusan pribadi (red: Negeri Balong Toha mengalami 4 musim). Pada perjalanan menuju penginapan setempat, seekor anjing yang kelihatan ganas menggonggonginya. Tuan Bebeng segera berjongkok, memungut batu untuk melempar anjing itu. Dia tidak dapat mengangkat batu tersebut karena batu itu membeku dan menempel ke tanah.
"Kota ini sungguh aneh !" Tuan Bebeng bergumam. "Mereka mengikat batu-batu namun melepas anjing-anjing di jalanan !"
Pada jaman dahulu di negeri Balong Toha, hiduplah seorang yang sangat bijak hingga tidak pernah ia kehabisan akal. Orang tersebut bernama Tuan Bebeng.
Suatu hari datanglah seorang udik yang tidak berpendidikan ke rumah Tuan Bebeng membawa sepucuk surat yang baru diterimanya.
"Tuan Bebeng, tolong saya, bacakan surat yang baru saya terima ini."
Tuan Bebeng melihat surat tersebut, namun ia tidak dapat mengartikan satu katapun dari surat itu. "Maafkan aku, tapi aku tidak dapat membacanya.", jawab Tuan Bebeng.
Orang udik tersebut kemudian berteriak : "Sungguh memalukan Tuan ! Harusnya anda malu pada toga yang anda pakai !" (red: di negeri itu orang yang memakai toga adalah orang yang terpelajar)
Tuan Bebeng kemudian membuka toganya dan memakaikannya di tubuh orang udik tersebut.
"Nah, sekarang kamu sudah memakai toga. Jika memang toga itu memang memberi pengetahuan dan kebijakan, tentu kamu bisa membaca surat itu sendiri."
Pada suatu hari yang panas terik Obeng berteduh di bawah bayangan sebuah pohon kenari yang besar. Setelah beberapa lama diapun mulai memperhatikan dan membandingkan, sebuah labu yang besar pada tumbuhan jalar sedangkan sebuah kenari yang kecil tumbuh pada sebuah pohon yang sangat besar.
"Kadang-kadang aku tidak dapat mengerti maksud Tuhan!" Lamun Obeng, "Meletakkan biji kenari yang kecil di pohon yang besar sedangkan labu yang besar pada tumbuhan menjalar." Tiba-tiba sebuah kenari terlepas dari dahan dan terjatuh tepat di kepala Obeng yang tidak berambut. Obeng serta merta berdiri, mengangkat kedua tangannya ke udara, serta menengadahkan wajahnya ke langit sambil berseru, "Oh Tuhanku! Ampuni aku telah mempertanyakan maksudMu. Sungguh Kaulah Sang Maha Mengetahui. Entah dimana aku sekarang jika labu tumbuh di pohon !"
Pengen ketawa kalo liat ulah pemimpin-pemimpin kita. Setiap ada masalah pada pelayanan publik ujung-ujungnya "ini tanggung jawab kita bersama". Statement yang aneh… Kan jelas-jelas beliau yang jadi pejabat publik. Ko’ malah ngelemparin tanggung jawab ke orang lain juga. Padahal kan beliau-beliau digaji buat ngelayanin publik. Kalo tanggung jawabnya dilemparin ke kita semua, ko’ kita ngga digaji ya ? Malah segala pajak dan retribusi dibebankan sama kita.
Contoh gampang, masalah sampah di Bandung yang udah sampe di surat kabar lokal di Kalimantan. Di berbagai TPS dipasang spanduk-spanduk yang kira-kira isinya menghimbau masyarakat untuk mengurangi sampah rumah tangga. Lho ? Nggak salah ? Sampah rumah tangga mah cuma segitu-segitunya. Apanya lagi yang mau dikurangin ? Aneh….
Bukannya mau apatis atau pengen enak-enakan tau beres. Tapi rasanya solusi udah banyak deh diangkat oleh para pakar. Bukannya mau sok tau dan ngerasa lebih pinter. Tapi rasanya ilmu-ilmu yang ada cukup deh buat nyelesein masalah. Tinggal diaplikasiin aja kok.
Susah cari lahan ? Ah alasan apa pula ini. "Waduk Suro!" kalo kata barudak mah.
Kesalahan masyarakat juga ? Enak aja maen salah-salahin. Kita mah hidup ya begini-begini aja. Mana segala mahal segala bayar.
Sim City ? Ya, ini game simulasi yang bagus buat beliau-beliau belajar cara me-manage dan memimpin masyarakat.
Tanggung Jawab Kita Bersama ? Mundur sajalah boss. Biar saya yang jadi pejabat. Setidaknya kalo ngaco saya memilih mundur daripada membebankan tanggung jawab saya ke orang lain…
Dimaki-maki ? Pasti… Wong ngaco kok !
-Sambil memegang gelas penuh berisi minuman berkandungan alkohol tinggi dan menatap kosong ke meja yang licin mengkilap-
A : "Semoga Tuhan membuat mereka yang kita cintai mencintai kita juga."
A : "Dan jika mereka tidak dapat mencintai kita, semoga Tuhan meremuk-redamkan hati mereka agar mereka merasakan remuk-redamnya yang tak dicintai sehingga kemudian mereka dapat mencintai kita."
A : "Dan jika mereka tidak dapat mencintai kita juga, semoga Tuhan meremukkan kakinya agar kita mengenali mereka dari langkahnya…"
-Beberapa saat kemudian hanya ada sebuah gelas kosong di atas meja di tempat itu-